Tugas Manahij Al Mufassirin
Di STIQ Al Multazam http://stiq-almultazam.ac.id/.
Ibrahim bin as-Sirri bin sahal az-Zajjaj
Biografi singkat az-Zajjaj
Abu Ishaq Ibrahim bin as-Sirri bin sahal az-Zajjaj
lahir di Baghdad pada tahun 241 H dan meninggal di Baghdad pula pada 311
H. beliau merupakan ahli bahasa (nahwu) terkemuka pada zamannya dan
sampai-sampai dijuluki oleh adz-Dzahabi sebagai “Nahwiy Zamanih”.
Beliau mendapat sanjungan dari beberapa ulama lain seperti imam Ibnu Katsir
mengatakan dalam al-Bidayah wa an-nihayah “Dia (az-Zajjaj
adalah seorang yang baik dan saleh, dengan keimanan yang kuat dan seorang
penulis buku ma’ani al-Qur’an wa I’rabihi dan karya-karya lain
yang bermanfaat”, dan dalam kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun mengatakan
“para ahli tata bahasa seperti Imam Sibawaih al-Farisi dan az-Zajjaj mereka
telah mempelajari bahasa Arab dan menyempurnakannya dengan menghadirkan buku
tata bahasa arab. Mereka menemukan faedah bahasa dan membuat ilmu tata bahasa
penting dan untuk kepentingan generasi
selanjutnya”.
Setelah Az-Zajjaji sudah matang dalam
menuntut ilmu, beliau duduk sebagai guru di Masjid Bani Umayyah di Damaskus.
Beliau mengajar murid-muridnya dan orang umum, mendiktekan ilmunya kepada mereka,
dan menulis karyanya. Beliau hidup dengan ahli nahwu yang besar disana. Namun,
beliau tetap tegar dan istiqomah dalam mengajar. Pada saat mengajar pun beliau
menulis beberapa buku yang terdapat ilmu yang besar.
Pada suatu saat beliau mendapatkan kesenjangan
terhadap Abu Ali Al-Farisi (Ahli Nahwu besar di zamannya). Secara tidak sengaja
ada seseorang yang meneliti masing-masing karya dari kedua ahli nahwu tersebut
dan mengetahui apa penyebab kesenjangan diantara keduanya. Sebabnya karena
Az-Zajjaji menuliskan bukunya dengan cara pengajaran, cara yang mudah untuk
dipelajari dan jauh dari ketidakjelasan, sedangkan buku Abu Ali Al-Farisi
terlalu mendalami dan menggunakan cara berpikir yang sangat keras, jauh dari
kata mudah.
Guru-guru beliau seperti al-Mubarrad dan ath-Thalab yang mengajari filologi. Az-Zajjaj juga memiliki banyak
murid, seperti Abu Ali al-Farisi, Ibnu Wazir Ubaidillah bin Sulaiman bin Wahab
al-Qasim. Karya-karya beliau antara lain ma’ani al-Qur’an wa I’rabihi,
al-Isytiqaq, al-Anwar, Mukhtashar an-nahwi, Syarh Abyati Syibawaih, dan
lain-lain. Sebagian besar karyanya terfokus pada tema tata bahasa arab.
Az-Zajjai adalah orang yang sangat
taat beragama. Beliau menulis bukunya Al-Jumal di Mekkah dan ketika selesai
menulis satu bab dalam buku tersebut beliau thawaf di Ka'bah sebanyak 7 putaran, dan berdoa
kepada Allah Ta'ala agar buku yang beliau tulis dapat memberikan manfaat kepada
manusia. Beliau tidak menulis buku tersebut kecuali dalam keadaan telah
bersuci. Bagaimanapun juga tidak akan ada tuduhan mengenai agama dan akhlak
beliau.
Az-Zajjaji telah meninggalkan karya
yang sangat banyak dari beberapa ilmu, bahkan terhitung tidak kurang dari 20
karya. Sebagian buku telah dicetak dan didistribusikan di perpustakaan
internasional di dunia dan sebagian lainnya masih berbentuk naskah dan dijaga di berbagai
perpustakaan di dunia. Salah satu karyanya yang paling menonjol adalah buku
Al-Jumal dalam Ilmu Nahwu.
Kitab Ma’ani al-Qur’an wa I’rabihi li az-Zajjaj
Beliau menuliskan kitab ini karena beliau merupakan
seorang yang yang ahli di bidang bahasa (nahwu). Selain karena spesialisi di
bidangnya, ia juga menuturkan bahwa Kitab Allah itu sebaiknya dijelaskan,
sebagaimana firman Allah (أفلا
يتدبّرون القرآن) , maka kita . tetapi tidak seharusnya bagi seseorang untuk
berpendapat kecuali berdasarkan jalan bahasa atau yang bersesuaian dengan
pendapatnya para ahli ilmu. [1] az-Zujjaj menyusun kitab ini selama
16 tahun (285-301 H).
Kitab ini terdiri dari lima jilid. jilid pertama
berisi penjelasan surat al-Fatihah sampai surat Ali Imran ,jilid kedua
berisi surat an-Nisa’ sampai surat Taubah (Bara`ah), jilid ketiga berisi surat Yunus
sampai surat al-Hajj, jilid keempat berisi surat
al-Mukminun sampai surat al-Ahqaf, dan jilid kelima berisi surat Muhammad
sampai surat an-Nas.
Seperti judul kitab ini, isi kitab ini berupa
penjelasan makna kata-kata dalam al-Qur’an beserta kedudukan i’rabnya. Dalam
menerangkan makna suatu kata, az-Zujjaj menjelaskannya secara ringkas. Beliau
juga banyak mengutip pendapat-pendapat ulama pendahulunya, seperti al-Akhfas,
imam Syibawaih (148 H), Ibnu Abi Ishaq (w. 117H), dan lain-lain.
Ketika menjelaskan i’rab (kedudukan) suatu kata,
beliau jelaskan sebab-sebab kata tersebut dibaca demikian. Selain itu
dijabarkan juga kemungkinan-kemungkinan lain i’rab dari suatu kata, fungsi-fungsi
suatu ‘amil, faedah suatu huruf atau kata, juga dicantumkan juga contoh-contoh
penggunaan ‘amil yang mudah dipahami. Dalam menjelaskan tata bahasanya,
az-Zajjaj mengikutu mazhab ulama Bashrah karena tempat tinggalnya yang berada
di Baghdad. Misal dalam menjelaskan surat al-Fatihah ayat 4:[2]
وقوله عزَّ وجلَّ: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)
القراءَة الخفض على مجرِى الحمدُ للَّهِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.
وإِنْ نصب – في الكلام - على ما نُصِب عليه (رب العالمين والرحْمنِ الرحِيم) جازَ
في الكلام. فأما في الْقراءَةِ فلا أسْتحْسِنه فيها، وقَدْ يجوز أنْ تنْصِب رب
العالمين ومالك يومِ الدِّين على النداءِ في الكَلام كما تقول: الحمدُ للَّهِ يا
ربَّ العَالمين، " ويا مَالكَ يَوْمِ الدِّين " كأنك.
بعد أن قُلْت.: " الحمدُ للهِ " قلت لك الْحْمدُ يا ربَّ العالمين ويا
مالك يوم الدين. وقُرِئ (مَلِكِ يَوْمَ الدِّين، ومَالِكِ يَوْمَ الدِّين)
وإنما خُصَّ يومُ الدِّين واللَّه عزَّ وجلَّ يَملك كل شَيءٍ لأنه اليومُ الذي يضْطَر
فيه الْمخلوقونَ إلى أنْ يعْرِفُوا أن الأمْر كلَّه للَّهِ، ألا تراه يقولُ: (لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ) وقوله:
(يوم لا تملك نفس لنفس شيئاً) فهو اليوم الذي لا يملك فيه أحد لنفسه ولا لغيره
نَفْعاً ولا ضَرَاً. ومن
قرأ (مَالِك يَوْم الدِّين) فعلى قوله (لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ . وهو بمنزلة مَنِ الْمَالكُ الْيوْم. ومن قرأ (مَلِكِ يَوْم الدِّين) فعلى معنى " ذُو
الْمَمْلَكَةِ " في يوم الدين، وقيل إنها قراءَة النبي - صلى الله عليه وسلم –
وقوله عزَّ وجلَّ: (يَوْم الدِّين). الدين في اللغة الجزاءُ، يقال: كما تَدِين تُدَان،
المعنى كما تعمل تُعْطى. وتُجَازىَ، قال الشاعر:
واعلم وأيْقن أن مُلككَ زائل. . . واعلم بأن كما تدِينُ
تُدَانُ
أي تجازى بما تعمل، والدِّينُ أيضاً في اللغة العَادَة،
تقولُ العربُ ما زَال ذلك دِيني، أي عَادَتي. قال الشاعر:
تقول إذا دَرَاتُ لها وضيني. . . أهذا دِينه أبداً
ودِينِي
Dalam kutipan di atas, dijelaskan bahwa kata مالك dibaca jar / khafdhu karena mengikuti kata لله yang juga dibaca jar karena kemasukan huruf jar ( (ل dan juga bisa dibaca nashab ( (مالكَdengan mengikuti kata ربَّ العالمين yang dinashabkan dengan
mengira-ngirakan nida’ (panggilan) menjadi الحمدُ للَّهِ يا ربَّ العَالمين, و يا مالكَ يوم الدين. . kata ملك bisa dibaca dua macam, yaitu مالك dengan mim dipanjangkan dan ملك dengan mim dibaca pendek. Ketika menjelaskan makna dari
ayat tersebut, beliau mengutip ayat lain yaitu QS. Ali imran: 26 dan QS.
Al-Infithar: 26, maksudnya hari dimana tidak ada seorangpun yang dapat memberi
manfaat maupun melukai diri sendiri dan orang lain. Lalu dijelaskan jika
dibaca مالك (panjang
mimnya) dimakanai sebagai “yang merajai
hari itu”. Sedangkan jika dibaca ملك (pendek
mimnya) dimaknai sebagai “yang memiliki hari itu”. Dan kata الدين dalam
يوم الدين diartikan sebagai الجزاء atau hari pembalasan, pembalasan terhadap apa yang telah
dilakukan.
Pendapatnya yang paling terkenal adalah pada QS.
Thaha: 5, ia mengartikan استوى dengan استولى yang berarti menguasai. Walaupun dalam kitab ini
kaya akan informasi, namun az-Zajjaj tidak menjelaskan sanad-sanad dari
berbagai hadis yang ia sebutkan.
Referensi:
http://hakimmuin.blogspot.com/2017/04/mengenal-kitab-maanil-quran-karya-az.html
https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_al-Sari_al-Zajjaj&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search